Berhubung gw lagi ga ada ide untuk merevisi proposal tugas akhir, lebih baik kalo gw bersabda eh bercerita. Sabtu 14 Maret ceritanya bokap baru balik dari Bangka. Bokap ke Bangka untuk menghadiri setahun Kungkung meninggal. Bagi yang ga tau, Kungkung bahasa lainnya yaitu Opa atau Kakek atau Ayah dari Bapak atau Ibu atau Opung kalo orang Batak bilang. :D

Pulang dari Bangka, bokap membawa banyak oleh – oleh. Mulai dari Kemplang yang dimakan dengan kuah, nanas Bangka (bentuknya kecil dan rasanya manis), Kue Bangkit atau gaulnya Kue Lintah, Sekardus imitasi daun ganja alias pucuk muda daun dari umbi singkong, dan salah satunya adalah seonggok daging yang tak gw kenal.

Karena hari sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, maka tibalah saatnya kita untuk dinner. Dengan menu ati ampela ayam, sayur sawi hijau dan tak lupa daging yang dibawa bokap dari Bangka. Bokap bilang seh itu daging musang, yah gw percaya aja coz gw juga belum pernah makan daging musang. Rasanya sedikit aneh bro. Daging itu diolah bersama rebung (ga tau lagi yang namanya Rebung? walah – walah rebung itu adalah bambu muda biasanya dibuat sayuran).

Selesai makan bokap bertanya
bokap : “Enak kan?”
gw : “lumayan pa, tapi rada aneh”.
Lalu gw pun mencuci piring gw. Sedangkan bokap mengobrol ma Nyokap. Dari nyokap gw baru sadar bahwa yang gw makan tuh daging monyet..! Bokap bilang itu daging musang biar gw ma nyokap memakannya. Haiya..! Ane jadi serba salah ma monyet. Sorry banget ya nyet dagingmu tak makan…